Saturday, October 13, 2018

Botani Tanaman Kayu Manis

Kayu Manis (Cinnamomum sp)

     Di dunia tercatat 54 jenis tanaman kayu manis (Cinnamomum sp) dan     12 jenis diantaranya ada di Indonesia. Jenis kayu-manis yang banyak ditanam di Indonesia adalah C. burmanii, C. zeylanikum dan C. cassia. Disamping itu juga banyak tumbuh liar dihutan-hutan jenis C. massoi dan C. culilawan.
     Di beberapa daerah di Indonesia terdapat berbagai spesies tanaman kayu manis. Di Jawa dikenal Cinnamomum javanicum dan Cinnamomum sintok (kayu sintok). Namun, spesies ini tidak pernah dibudidayakan secara massal karena hasilnya tidak sebaik Cinnamomun burmanii. Sementara di Maluku terdapat Cinnamomum cullilawan yang biasa disebut sebagai kulit lawang atau kayu lawang yang minyak atsirinya dikenal sebagai minyak lawang. Taksonomi dari tanaman kayu manis asal Indonesia yang berasal dari Kabupaten Kerinci yaitu: Kingdom : Plantae (Tumbuhan), Divisio : Magnoliophyta (Tumbuhan Berbunga), Class : Magnoliopsida (Berkeping dua), Ordo : Laurales, Family : Lauraceae, Genus : Cinnamomum, Spesies : Cinnamomum burmannii.
     Tinggi tanaman kayu manis berkisar antara 5 – 15 m, kulit pohon berwarna abu-abu tua berbau khas, kayunya berwarna merah coklat muda. Daun tunggal, kaku seperti kulit, letak berseling, panjang tangkai daun 0,5 – 1,5 cm dengan 3 – 10 buah tulang daun yang tumbuh melengkung. Bentuk daun elips memanjang, panjang 4,00 – 14,00 cm, lebar 1,50 – 6,00 cm, ujung runcing, tepi rata, permukaan atas licin warnanya hijau, permukaan bawah bertepung warnanya keabu-abuan, Daun muda berwarna merah pucat, Bunganya berkelamin dua atau bunga sempurna dengan warna kuning, Ukurannya kecil, Kelopak bunga berjumlah 6 helai dalam dua rangkaian, Bunga ini tidak bertajuk bunga, Benang sarinya berjumlah 12 helai yang terangkai dalam empat kelompok, kotak sarinya beruang empat, Persarian berlangsung dengan bantuan serangga, Buahnya buah buni berbiji satu dan berdaging, Bentuknya bulat memanjang, Warna buah muda hijau tua dan buah tua ungu tua, Panjang buah sekitar 1,30 – 1,60 cm,                dan diameter 0,35 – 0,75 cm. Panjang biji 0,84 – 1,32 cm dan diameter             0,59 - ,68 cm (Fitriyeni, 2011).


Syarat Tumbuh Tanaman Kayu Manis  
     Ketinggian tempat penanaman kayu manis dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman serta kualitas kulit seperti ketebalan dan aroma. Kayu manis dapat tumbuh pada ketinggian hingga 2.000 m dpl. Kayu manis akan berproduksi baik bila ditanam di daerah dengan ketinggian 500 – 1.500 m dpl. Kayu manis menghendaki hujan yang merata sepanjang tahun dengan jumlah cukup, sekitar 2.000 – 2.500 mm/tahun. Curah hujan yang terlalu tinggi akan mengakibatkan hasil panen rendemennya terlalu rendah. Daerah penanaman sebaiknya bersuhu rata-rata 25°C dengan batas maksimum 27°C dan minimum 18°C. Kelembaban yang diinginkan 70 – 90 %, semakin tinggi kelembabannya maka semakin baik pertumbuhannya.     
     Sinar matahari yang dibutuhkan tanaman  40 – 70%. Kayu manis akan tumbuh baik pada tanah lempung berpasir, banyak humus, remah, kaya bahan organik dan berdrainase baik. pH tanah yang sesuai  5,0 – 6,5. Tanah yang paling cocok untuk tanaman kayu manis adalah tanah yang subur, gembur, agak berpasir, dan kaya akan bahan organik. Tanah yang berpasir membuat kayu manis dapat menghasilkan kulit yang paling harum. Di dataran rendah tumbuhnya lebih cepat dari pada di dataran tinggi, tetapi di dataran yang rendah kulit yang dihasilkan kurang tebal, dan rasanya juga agak kurang baik. Di tempat tinggi pertumbuhannya lambat, tetapi kulitnya lebih tebal, dan berkualitas lebih baik. (Rusli dan Abdullah, 1988)

Teknik Pembibitan Kayu Manis 
   Pembibitan merupakan tahapan budidaya yang sangat penting karena akan menentukan kemampuan hidup tanaman pada tahap selanjutnya dilapangan. Bibit yang bermutu menghasilkan interaksi antara tanaman dan faktor lingkungan, oleh sebab itu dalam pembibitan tanaman kayu manis khusus nya dalam pemilihan biji yang bermutu harus dipilih dari pohon induk yang baik yaitu pohon yang mempunyai pertumbuhan yang baik dan berbatang besar, pohon induk harus sudah berumur lebih dari 10 tahun, sehat, tidak terserang hama dan penyakit, kulit beraroma baik, dan hurus memiliki kadar atsiri yang tinggi yang biasa di tandai dengan warna daun yang sudah menjadi hijau tua (Sentra HKI Provinsi Jambi, 2011). 
     Teknik pembibitan kayu manis diperlukan perlakuan biji sebelum semai yang dapat dilakukan dengan cara pengupasan daging biji, setelah itu harus segera ditanam karena biji kayu manis tergolong biji berumur pendek yang sangat cepat kehilangan daya kecambahnya. Biji kayu manis tidak tahan lama di simpan lebih dari satu minggu pada suhu kamar 27o – 28o C atau lebih dari empat minggu pada suhu rendah 15o – 20o C. Penyemaian biji dapat dilakukan langsung di bedengan maupun di polybag. Penyemaian di polybag dapat dilakukan dengan diameter     10 cm dan tingginya sekitar 15 cm. Media yang di isi pada setiap polybag berupa campuran tanah dan pupuk kandang matang dengan perbandingan 1:2. Hal ini bertujuan untuk mempercepat pertumbuhan bibit. Masing-masing polybag di isi satu biji, kemudian tutup dengan tanah setebal 0,5 – 1 cm untuk mendapatkan matahari yang cukup, naungan dibuat menghadap ketimur dengan tinggi 150 cm dan 100 cm dibagian barat. Penyiraman dilakuan dua hari sekali pagi dan sore (Rismunandar dan Paimin, 2001).

Kompos dan Pengomposan
     Pembuatan kompos sebenarnya meniru proses terbentuknya humus oleh alam.  Melalui rekayasa kondisi lingkungan, kompos dapat dibuat serta dipercepat prosesnya, yaitu hanya dalam jangka waktu 30 – 90 hari dengan penambahan EM-4, Stardec, Starbio, Orgadec, Harmony dan Fix-up Plus. Waktu ini melebihi kecepatan pembentukan humus secara alami   (Dipo dan Yuwono, 2006). Unsur-unsur di dalam kompos terdiri dari dua kelompok unsur hara, yaitu unsur hara makro dan unsur hara mikro. 1. Unsur hara makro terbagi dua, yaitu unsur hara makro primer dan unsur hara makro sekunder. Unsur hara makro primer adalah unsur hara yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah banyak, yang terdiri dari Nitrogen (N), Phospor  (P) dan Kalium (K). Sedangkan unsur hara makro sekunder adalah unsur hara yang dibutuhkan dalam jumlah sedang, terdiri dari Kalium (Ca), Magnesium (Mg) dan belerang (S). 2. Unsur hara mikro adalah unsur hara yang dibutuhkan dalam jumlah sedikit, terdiri dari zat Besi (Fe), Mangan (Mn), Tembaga (Cu) dan Seng (Zn).     
     Pengomposan adalah perombakan bahan-bahan organik yang telah mengalami proses pelapukan karena adanya interaksi antara mikroorganisme (bakteri pembusuk) yang bekerja didalamnya (Murbandono, 2000). Prinsip pengomposan adalah untuk menurunkan rasio C/N bahan organik hingga sama dengan tanah (<20). Semakin tinggi rasio C/N bahan organik maka proses pengomposan atau perombakan bahan semakin lama. Waktu yang dibutuhkan bervariasi dari satu bulan hingga beberapa tahun tergantung bahan dasar. Proses perombakan bahan organik terjadi secara biofisika–kimia, melibatkan aktivitas biologi mikroba dan mesofauna (Sutanto, 2002).    
     Proses pengomposan terdiri atas dua penguraian yaitu aerob dan anaerob. Secara garis besar sebagai berikut :  
a. Pengomposan aerob : Dalam sistem ini, kurang lebih dua pertiga unsur karbon (C) menguap (menjadi CO2) dan sisanya satu pertiga bagian bereaksi dengan nitrogen dalam sel hidup. Selama proses pengomposan aerob tidak timbul bau busuk. Selama proses pengomposan berlangsung akan terjadi reaksi eksotermik sehingga timbul panas akibat pelepasan energi. Kenaikan suhu dalam timbunan bahan organik menghasilkan suhu yang menguntungkan mikroorganisme temofilik. Akan tetapi, apabila suhu melampaui 65–700C, kegiatan mikroorganisme akan menurun karena kematian organisme akibat panas yang tinggi.
b. Pengomposan anaerob : penguraian bahan organik terjadi pada kondisi anaerob (tanpa oksigen). Tahap pertama, bakteri fakultatif penghasil asam menguraikan bahan organik menjadi asam lemak, aldehida, dan lain-lain. Proses selanjutnya bakteri dari kelompok lain akan mengubah asam lemak menjadi gas metan, amoniak, CO2 dan hidrogen. Hal ini menyebabkan ketersediaan hara N, P, dan K tanah menurun, karena diserap dan digunakan oleh mikroba pendekomposisi untuk aktivitas peruraian bahan organik (Sutanto, 2002). Proses penguraian secara anaerob juga menghasilkan energi/suhu sehingga suhu tanah meningkat.    

Ara sungsang (Asystasia gangetica) dan Potensinya sebagai Kompos 
     Asystasia gangetica merupakan tanaman herba yang tumbuh cepat dan mudah berkembangbiak. Berbatang lunak, dapat tumbuh dalam keadaan yang kurang baik. Daun berhadapan, sering berpasangan, berbentuk bulat panjang, pangkal bulat dan bertangkai. Bunga mengelompok, banyak, sedikit berbunga tunggal, berwarna putih atau ungu, kelopak bunga menutupi ovari. Buah kapsul, panjang 2-3 cm, berbiji empat atau kurang dalam buah kapsul dan mengandung bahan organik yang cukup tinggi 37,87% C, 2,06 % N, dan 1,57% K.
     Kompos merupakan produk pembusukan dari limbah tanaman dan hewan hasil perombakan oleh fungi aktynomisetes, dan cacing tanah. Pupuk hijau merupakan keseluruhan tanaman hijau maupun hanya bagian dari tanaman seperti sisa batang dan tunggul akar setelah bagian atas tanaman yang hijau digunakan sebagai pakan ternak. Sebagai contoh pupuk hijau ini adalah sisa–sisa tanaman, kacang-kacangan, dan tanaman paku air azolla. Pupuk kandang merupakan kotoran ternak (Tyasmoro, 2006). Salah satu upaya yang dilakukan untuk meningkatkan mutu bibit kayu manis adalah dengan penambahan bahan organik. Bahan organik yang diberikan dapat  berfungsi sebagai pengikat butiran-butiran tanah  sehingga agregatnya menjadi mantap. Keadaan ini berpengaruh terhadap porositas, daya penyimpanan, dan penyediaan air serta aerase tanah. Perbaikan sifat fisik, kimia, dan biologi tanah ini akan menjadikannya media yang baik untuk pertumbuhan dan perkembangan akar.   
     Penggunaan kompos sebagai pupuk sangat baik karena  dapat memberikan beberapa manfaat yaitu menyediakan unsur hara mikro bagi tanaman, menggemburkan tanah, memperbaiki stuktur tanah, meningkatkan porositas, aerasi dan komposisi mikroorganisme tanah, meningkatkan daya  ikat  tanah terhadap air serta memudahkan pertumbuhan akar tanaman (Murbandono,  2007).  Menurut Prihandini  et al,. (2007),  kompos mampu  memperbaiki  kerusakan  sifat fisik  berupa  struktur  tanah  akibat pemakaian  pupuk  anorganik  pada tanah  secara  berlebihan  dalam  jangka waktu  lama. Penelitian (Islamiyah, 2011) menunjukkan bahwa pemberian ara sungsang mampu meningkatkan kandungan bahan organik tanah.

Referensi :

KOPI LIBERIKA DI TANAH BEKAS TAMBANG BATUBARA




Kopi merupakan salah satu komoditi perkebunan yang mempunyai nilai ekonomis yang tinggi di antara tanaman perkebunan lainnya dan berperan penting sebagai sumber devisa Negara. Produksi kopi di Indonesia menempati urutan ke-3 dunia setelah Brazil dan Vietnam. Provinsi Jambi adalah salah satu Provinsi yang menempatkan kopi sebagai jenis komoditas andalan daerah, salah satunya kopi Liberika Tungkal Jambi yaitu, kopi ini sangat spesifik karena dapat tumbuh dan berkembang dengan baik di lahan gambut. Kopi ini merupakan khas bagi Kabupaten Tanjung Jabung Barat.

Dengan meningkatnya luas areal tanaman kopi tentu kebutuhan akan ketersediaan bibit kopi berkualitas dengan kuantitas yang terus meningkat sejalan dengan meningkatnya kebutuhan penduduk dunia akan kebutuhan kopi. Solusi dari permasalahan tersebut adalah mmeningkatkan kualitas lahan marjinal agar dapat kembali sebagai lahan pertanian. Lahan marjinal yang berpotensi di Provinsi Jambi adalah lahan bekas tambang baru bara. Lahan bekas tambang baru bara mempunyai tingkat kesuburan yang rendah, memiliki masalah dalam penyerapan air, sehingga perlu dilakukan kegiatan untuk memperbaikinya. Salah satu upaya untuk meningkatkan penyediaan unsur hara adalah dengan memberikan pupuk solid dan pupuk kandang ayam.

Kopi merupakan salah satu komoditi perkebunan yang mempunyai nilai ekonomis yang tinggi di antara tanaman perkebunan lainnya dan berperan penting sebagai sumber devisa negara. Selain itu kopi juga merupakan sumber penghasilan untuk penduduk di Indonesia. Upaya meningkatkan produktivitas dan mutu kopi terus dilakukan sehingga kopi di Indonesia dapat bersaing di pasar dunia (Rahardjo dan Pudji, 2012).

Provinsi Jambi adalah salah satu Provinsi yang menempatkan kopi sebagai jenis komoditas andalan daerah, salah satunya kopi Liberika Tungkal Jambi yaitu, kopi ini sangat spesifik karena dapat tumbuh dan berkembang dengan baik di lahan gambut. Kopi ini merupakan khas bagi Kabupaten Tanjung Jabung Barat.

Pada saat ini tanaman kopi sudah mulai dibudidayakan tidak saja di lahan gambut tetapi juga di tipe lahan yang lainnya. Yang menjadi ciri khas dari kopi ini adalah daya adaptasinya pada kondisi yang minimal. Selain itu karena tanaman kopi ini didaerah asalnya sudah tua sehingga perlu penyelamatan plasma nutfah dengan peremajaan dengan menanamnya dilahan-lahan selain lahan gambut yang masih tersedia cukup luas seperti lahan tidur dan lahan marjinal lain misalnya lahan bekas tambang batubara.  Tanah bekas tambang batubara adalah tanah yang memiliki masalah fisik, yaitu tekstur dan struktur tanah. Hal ini disebabkan hilangnya fungsi proteksi terhadap tanah akibat tidak adanya penutupan tajuk yang juga berakibat pada terganggunya fungsi-fungsi lainnya (Rahmawaty, 2002). Lahan bekas tambang batubara adalah lahan yang memiliki kondisi tanah kahat unsur hara terutama N dan P, reaksi tanah masam, top soil tipis, miskin bahan organik dan adanya gejala toksisitas dari Al dan Mn (Kartika, 2012). Upaya yang harus dilakukan dalam peningkatan hara tanah di lahan bekas tambang batubara adalah  pemberian bahan organik. Penggunaan bahan organik hingga saat ini dianggap sebagai upaya terbaik dalam perbaikan produktivitas tanah marginal termasuk tanah masam. Menurut Riley et al., (2008) dan Dinesh et al., (2010) bahwa aplikasi bahan organik dapat memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kapasitas menahan air, dan meningkatkan kehidupan biologi tanah. Salah satu jenis pupuk organik adalah kompos.

Referensi :

Keanekaragman Mikroalga di Danau Duo Kerinci dan Danau Letang Batanghari

Kabupaten Kerinci merupakan salah satu daerah yang memiliki keindahan alam di Provinsi Jambi, seperti  keindahan danaunya. Danau Duo adalah salah satu danau yang terdapat di Kabupaten Kerinci tepatnya di Desa Lempur Kecamatan Gunung Raya. 
Danau Duo terletak sekitar 1500 meter di atas permukaan laut, termasuk danau tertinggi di Sumatera, danau ini berwarna jernih kehijauan, warga sekitar memanfaatkan danau ini untuk mencari  ikan dengan cara memancing dan juga dengan memasang jalo, tajur, dan lukah. Sebagian warga bila sedang berkebun disekitar danau  memanfaatkan danau Duo ini untuk mandi dan mandi,cuci, kakus (MCK) dan wisatawan yang datang selain untuk berkemah juga memanfaatkan danau ini untuk mandi dan mencuci baju, bila kegiatan ini terus berlangsung dikhawatirkan air danau akan tercemari dan merusak kestabilan ekosistem dan biota  yang hidup di dalam danau tersebut, seperti mikroalga.
Mikroalga merupakan organisme yang berukuran mikroskopik, memiliki berbagai potensi yang dapat dikembangkan sebagai sumber pakan, pangan, dan telah dimanfaatkan untuk berbagai macam keperluan mulai dari bidang perikanan sebagai makanan larva ikan, organisme penyaring, industri farmasi, dan makanan suplemen dengan kandungan protein, karbohidrat, lipid, dan berbagai macam mineral (Hermanto, dkk, 2011:153-154)
Berdasarkan hasil penelitian Meta Anggraini yang telah dilakukan di di Danau Duo Kabupaten Kerinci dari proses identifikasi di laboratorium Ekologi Hewan Universitas Andalas diperoleh sebanyak 21 jenis mikroalga yang teridentifikasi. Jenis mikroalga yang teridentifikasi terdiri atas 4 kelas yaitu Bacillariophyceae, Chlorophyceae, Cyanophyceae, dan Dinophyceae.   Jenis mikroalga yang paling banyak yaitu dari kelas Bacillariophyceae sebanyak 12 jenis dan jenis mikroalga yang paling sedikit dari kelas Cyanophyceae sebanyak 1 jenis yaitu Microcystis aeruginosa.
Kabupaten Batanghari terletak di bagian timur Provinsi Jambi menyimpan potensi alam berupa danau-danau yang mempesona. Salah satu danau yang ada di Kabupaten Batanghari adalah Danau Letang Jaya.
Danau Letang Jaya merupakan salah satu keindahan alam dan tempat wisata yang terdapat di Muara Bulian Kabupaten Batanghari Provinsi Jambi.. Danau Letang Jaya memiliki 4,5 hektar dengan kedalaman 5-6 meter, sedangkan vegetasi yang ada di dalam danau Letang Jaya tersebut berupa tumbuhan akasia dan sepang (Syofwan, 2007:86).
Berdasarkan hasil penelitian Kartiwan yang telah dilakukan di kawasan danau Letang Jaya Muara Bulian Kabupaten Batanghari dan dari proses identifikasi di laboratoriun Kesehatan Ikan Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Sungai Gelam ditemukan sebanyak 52 jenis mikroalga yang telah teridentifikasi. Jenis mikroalga yang diidentifikasi termasuk kedalam 4 divisi yaitu Chrysophyta, Chlorophyta, Cyanophyta, dan Euglenaphyta.
  Terdapat banyak jenis keanekaragaman mikroalga di Danau Duo Kabupaten Kerinci dan danau Letang Jaya Muara Bulian kabupaten Batanghari. Oleh karena itu, diharapkan masyarakat yang hidup di sekitar danau untuk tetap menjaga kelestarian, agar ekosistem danau tersebut tetap terjaga dengan baik, karena kawasan danau tersebut merupakan salah satu tempat perekonomian masyarakat dengan cara budidaya ikan dalam kramba dan sebagai tempat pariwisata masyarakat luar daerah.

Referensi :

3. Hermanto.M.B., Sumardi., Hawa. L.C., Fiqtinori. S.M. 2011. Perancangan Bioreaktor Untuk Pembudidayaan Mikroalga. Jurnal Teknologi Pertanian. 12 (3):153-162.



HUTAN MANGROVE, PUSAT EKOSISTEM

Hutan Manggrove Pantai

Hutan mangrove merupakan tipe hutan yang khas terdapat di sepanjang pantai atau muara sungai yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Jenis vegetasi yang tumbuh merupakan jenis vegetasi yang sanggup beradaptasi dengan perubahan kondisi yang berubah-ubah (Anwar dalam sinaga, 2017)

Secara ekologis hutan mangrove berfungsi sebagai daerah pemijahan dan daerah pembesaran berbagai jenis ikan, udang, kerang-kerangan dan spesies lainnya. Selain itu serasah mangrove yang jatuh di perairan menjadi sumber pakan biota perairan dan unsur hara yang sangat menentukan produktivitas perikanan di perairan pesisir dan laut. Hutan mangrove dengan sistem perakaran dan canopy yang rapat serta kokoh berfungsi sebagai pelindung daratan dari gempuran gelombang, tsunami, angin topan dan perembesan air laut (Bengen dalam sinaga, 2017).

Hutan mangrove mempunyai fungsi utama bagi kelestarian sumberdaya. Fungsi hutan mangrove secara biologis adalah menghasilkan bahan pelapukan yang menjadi sumber makanan penting bagi plankton, sehingga penting pula bagi keberlanjutan rantai makanan, sebagai tempat memijah dan berkembang biaknya ikan-ikan, kerang, kepiting dan udang, sebagai tempat berlindung Hutan mangrove juga memberikan manfat bagi manusisa yaitu dapat melindungi dataran tempat tinggal manusia dari gelombang besar tsunami.

Hutan mangrove dapat dikatakan sebagai pusat ekosistem karena ada banyak jenis hewan yang hidup di dalamnya. Banyak biota laut seperti kepiting, udang, ikan kecil dan hewan laut lan berlindung di perakaran pohon mangrove. Biota laut yang tinggal di hutan mangrove juag mendapatkan nutrisi yang digunakan untuk pertumbuhan dan perkembangan dari buah dan juga daun muda pohon mangrove. Pada batang pohon mangrove biasanya digunakan oleh burung laut untuk berburu mangsanya yang ada di air. Dengan begitu terbentuklah ekositem di hutan Mangrove.

Referensi :

Apa Itu Jamur Makroskopis?




Jamur makroskopis adalah jamur yang dapat dilihat secara langsung oleh mata tanpa bantuan mikroskop. Jamur ini memiliki tubuh buah,berukuran besar kurang lebih 1 mm, tersusun atas miselia. Jamur makroskopis dapat dijadikan sebagai sumber pangan dan bahan obat-obatan, dan dapat juga dijadikan sebagai hidangan makanan yang kaya akan kandungan protein. Tetapi dalam mengonsumsi jamur harus berhati-hati karena ada beberapa jenis jamur makroskopis yang berbahaya untuk dikonsumsi karena beracun.

Berdasarkan hasil peneritian jaur yang dilakukan oleh Frischa, Mahasiswi Universitas Jambi (UNJA) melakuakn penelitian tentang keanekaragaman jenis jamur makroskopis di hutan geopark merangin, Jambi. Ia menemukan setidaknya ada 20 jenis jaur yang berbeda yaitu Daldinia sp., Xylaria sp., Cookeina sp., Trametes sp.1, Trametes sp.2, Trametes sp.3, Trametes sp.4, Trametes sp.5, Trametes sp.6, Pseudotrametes sp.1, Pseudotrametes sp.2, Pseudotrametes sp.3, Pseudotrametes sp.4, Pseudotrametes sp.5, Ganoderma sp., Lentinus sp.1., Lentinus sp.2., Lentinus sp.3., Lentinus sp.4., Lentinus sp.5., Pyconoporus sp, Polyporus sp.1, Polyporus sp.2, Polyporus sp.3, Polyporus sp.4, Polyporus sp.5, Polyporus sp.6, Favolus sp., Fomes sp.1, Fomes sp.2, Marasmus sp, Mycena sp., Gloeoporus sp., Schizophyllum commune, Pleurotus sp., Hygophorus sp. dan Auricularia auricula.

Jamur makroskopis berperan sebagai pengurai atau dekomposer. Karena peran dari jamur inilah persedian nutrisi organik dapat dipertahankan dengan cara didaur ulang oleh jamur. Tanpa adnya dekomposes, unsur-unsur penting bagi tumbuhan seperti karbon, nitrogen akan mengendap pada smpah organik sehingga tidak akan ada persediaan nutrisi organik bagi tumbuhan.

Referensi :

Botani Tanaman Kayu Manis

Kayu Manis (Cinnamomum sp)      Di dunia tercatat 54 jenis tanaman kayu manis (Cinnamomum sp) dan     12 jenis diantaranya ada di Indo...